MITRAPOL.com – Hadi Utomo Pakar Analis Kebijakan Perlindungan Anak menanggapi atas situasi Kasus IAH terdakwa terorisme anak di Medan yang sekarang sedang dalam proses peradilan. Menurut Hadi Utomo yang sepakat dengan pendapat Asrorun Niam Sholeh Ketua KPAI. Mengatakan, Karena anak yang terlabel ini berpotensi dan rentan atau semakin menguat pandangannya terhadap dunia radikalisme. baca juga ; Ketua KPAI: Semakin Radikal di Lapas, Anak Pelaku Terorisme Harus Dipulihkan
![]() |
| Hadi Utomo Pakar Analis Kebijakan Perlindungan Anak |
“Apalagi IAH dianggap belajar sendiri tentang pembuatan Bom. Berarti lingkungan yang selama ini yang dia terima, tidak banyak menikmati bersosialisasi di keragaman pendapat keluarga, sekolah dan lingkungan,” kata Hadi, di Jakarta, Kamis (29/9).
Dijelaskan Hadi, Kemungkinan ketelantaran jiwanya bisa semakin mendalam atas kekecewaan yang IAH rasakan. Begitu juga harus dihindari IAH berita-berita atau stigma labellying stereotype dalam proses penanganannya.
Bisa jadi dampak tekanan-tekanan yang sebelumnya dia rasakan akan semakin panjang dalam kondisi sekarang. Untuk itu perlu pendampingan panjang dan instens. Karena menghadapai situasi yang tidak menentu.
Menyelamatkan anak, lanjutnya, yang berada dalam situasi seperti ini adalah menyelamatkan jiwanya. Menyelamatkan jiwa mereka dengan mengintegrasikan dalam kehidupan bermasyarakat dengan bersekolah, berkesehatan, bermasyarakat, artinya harus Inklusi.
“Karena anak harus bergaul. Indahnya bergaul dengan manusia yang berbeda agama atau keyakinan darinya. Bahwa saya radikal dia non radikal, tapi yang non radikal begitu indah dengan saya. Kalau terindikasikan ditelantarkan dalam proses karantina atau penjara maka akan semakin menguat di radikalisnya, seperti juga kekhawatiran Asrorun Niam Sholeh Ketua KPAI,” terangnya.
Jadi mereka bisa mengakses semua, tidak ada pembedaan dan diskriminasi atas pemahaman yang selama ini dia peroleh. “Anak perlu reintegrasi, pertanyannya apakah situasi penjalanan hukuman itu mampu memberikan fasilitas itu. Kalau mau deradikalisasi anak ini harus merasakan indahnya menjadi anak Indonesia, dibanding dengan apa yang dia pahami selama ini,” tutup Pakar Analis Kebijakan Perlindungan Anak kepada mitrapol.com. znd
:

comment 0 komentar
more_vert